Seorang yang mengatakan bahwa homoseksual bertentangan dengan al-Qur'an hampir selalu mengaitkan pernyataannya dengan dan mendasarkannya pada kisah tentang Nabi Luth dan kaum beliau. Bahkan pernyataan Nabi Luth yang dikutip langsung oleh al-Qur'an menjadi dasar mereka untuk mengatakan bahwa homoseksual tidak secara alami ada dalam diri manusia (baca: bukan fitrah manusia), relatif muda dibandingkan dengan sejarah manusia, dan oleh karenanya bukan sesuatu yang layak dipertahankan. Membaca ini, kita segera mendapatkan pertanyaan baru, "apakah benar ayat al-Qur'an tersebut (lebih tepatnya al-A'raf:80 dan al-'Ankabut:28) mengarah seseorang untuk berkesimpulan demikian?"
Saya akan mengatakan bahwa yang saya dapati, tafsiran atas ayat-ayat tersebut lah yang membawa mereka pada kesimpulan seperti itu. Lalu, seberapa kuatkah tafsiran itu? Mungkinkah ayat itu ditafsirkan dengan cara lain? Atau, bisakah ayat tersebut kita pahami sebagai tidak negatif terhadap homoseksualitas?
Jawaban atas pertanyaan pertama adalah "cukup kuat", mengingat tafsiran tersebut mengikutsertakan beberapa, bahkan banyak, hadis. Namun demikian, dengan mempertimbangkan perkembangan dan dinamika kritik hadis sampai saat ini, bukan tidak mungkin hadis-hadis tersebut berubah statusnya menjadi bermasalah dan kemudian, menjawab pertanyaan kedua, membuka peluang untuk tafsiran lain yang bisa jadi, menjawab pertanyaan ketiga, membuat kita memahami ayat-ayat tersebut sebagai tidak negatif terhadap homoseksualitas.
Ingatkan saya untuk menulis tentang beberapa hal; bagaimana kritik hadis paling mutakhir bertutur ketika berhadapan dengan riwayat-riwayat yang diikutsertakan dalam tafsiran dua ayat tersebut, bagaimana bentuk pemahaman kita terhadap ayat-ayat tersebut jika hasil tuturan itu kita pertimbangkan, dan sudahkah ada yang berbicara dengan nada-nada positif terhadap homoseksualitas ketika menafsirkan kedua ayat tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar