Nomor ayat dalam sejarah Mushaf al-Qur'an baru muncul ketika ia memasuki periode cetakan. Nomor ayat dalam mushaf al-Qur'an pertama kali ditemukan di mushaf hasil cetakan Abraham Hinckelmann di Hamburg (Jerman) pada 1694. Sejarah juga mencatat bahwa mushaf cetakan Gustavus Fluegel (Jerman) tahun 1834 sudah memunculkan nomor ayat. Hanyasaja cetakan Hinckelmann menggunakan 'angka Arab', sedangkan Fluegel menggunakan 'aksara Arab'. Betapapun demikian, keduanya meletakkan nomor ayat di awal ayat.
Catatan sejarah kemudian menunjukkan bahwa Matba'ah Usmaniyah (percetakan Usmaniyah) di Istanbul pada 1881 juga mencantumkan nomor ayat. Namun ada beberapa kejanggalan yang ditemukan dalam pencantuman ini; semua nomor ayat pada setiap surat dimulai dengan angka 2 (bukan angka 1), dan tidak ada nomor untuk ayat-ayat yang ada di halaman awal mushaf yang beriluminasi (lebih tepatnya seluruh ayat dari al-Fatihah dan beberapa ayat pertama Surat al-Baqarah). Beralih ke Indonesia, mushaf pertama yang ditemukan memiliki penomoran ayat adalah yang diterbitkan oleh Matba'ah al-Islamiyah pada tahun 1933.
Walhasil, kemunculan nomor ayat dalam mushaf al-Qur'an muncul pada periode cetakan; lebih tepatnya pada 1694 (Abad 17) di Jerman, lalu pada 1834 (paro pertama Abad 19) juga di Jerman, pada 1881 (paro kedua Abad 19) di Turki. Di Indonesia, nomor ayat baru ditemukan di mushaf yang dicetak pada 1933 (awal Abad 20).
Jika Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar